Penilaian Alternatif

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang

Kegiatan penilaian sangat bersifat kuantitatif. Dan lebih banyak diarahkan pada upaya memeriksa perbedaan-perbedaan individual. Dalam bidang pendidikan, berbagai alat uji/ tes diarahkan pula untuk mengukur perbedaan individual antara siswa yang satu dan siswa-siswa yang lain dalam setiap bidang studi.

Dilihat dari prosedur pengembangan, penilaian selalu diorientasikan pada upaya mengembangkan alat uji yang objektif dan baku. Tanpa adanya standar yang digunakan sebagai  norma, penilaian kurang berarti. Untuk menentukan norma yang berlaku bagi setiap alat uji yang sedang dikembangkan, alat uji tersebut perlu dicobakan pada sejumlah sampel tertentu dalam situasi yang terkontrol.

Penilaian itu bukan pengukuran atau prediksi, melainkan interpretasi atau judgment. Interpretasi selalu menunjuk adanya perbandingan. Penilaian tidak dimaksudkan untuk menghasilkan hukuman yang bersifat umum melainkan menentukan nilai dari suatu objek atau peristiwa dalam konteks situasi tertentu.

Banyak orang menghubungkan penilaian alternatif bergerak ke arah perubahan yang telah terjadi di tempat kerja. Di masa lalu, menyiapkan murid-murid sekolah umum untuk pekerjaan manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian. Difokuskan pada sekolah dasar keahlian dan pengetahuan berbasis fakta. Kertas-dan-pensil tes cukup diukur berdasarkan fakta pengetahuan yang digunakan dalam ekonomi lama. Penilaian alternatif membantu sekolah mempersiapkan siswa untuk tugas-tugas kompleks yang akan dituntut dari mereka ketika mereka menjadi dewasa dengan berfokus pada keterampilan berpikir daripada menghafal.

 

  1. B.     Permasalahan
  2. Apa yang dimaksud dengan penilaian alternatif?
  3. Apa fungsi penilaian alternatif?
  4. Apa saja jenis-jenis penilaian alternatif?

 

  1. C.      Tujuan Penulisan

Sesuai dengan uraian latar belakang diatas, maka tujuan dari penulisan ini kami mencoba untuk menguraikan bahasan – bahasan tentang penilaian dalam proses belajar-mengajar, khususnya tentang penilaian alternatif.

 BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Pengertian Penilaian Alternatif.

            Sejak pertengahan tahun 1980-an, para ahli pendidikan banyak berbicara mengenai kelemahan tes baku yang peranannya semakin dominan dalam system persekolahan. Tes baku yang didasarkan pada prinsip validitas, reliabilitas, keamanan, kemanfaatan dan akurasi suatu pengukuran hasil belajar, semakin luas dipersoalkan karena dianggap sebagai bagian yang terisolir dari proses belajar secara keseluruhan.

Secara sederhana, penilaian alternatif diartikan sebagai pemanfaatan pendekatan non-tradisional untuk memberi penilaian kinerja atau hasil belajar siswa. Istilah tradisional yang digunakan dalam konteks pengertian diatas terutama tes baku yang menggunakan perangkat tes objektif. Ada kalanya istilah penilaian alternatif diidentikkan dengan penilaian istilah lain seperti penilaian otentik dan penilaian kinerja. Disebut sebagai penilaian otentik karena penilaian alternatif sengaja dirancang untuk menjamin keaslian dan kejujuran penilaian serta hasilnya terpecaya. Disebut penilaian kinerja, karena siswa diminta menunjukkan penguasaannya tentang bidang ilmu tertentu, menjelaskan dengan kata-kata dan caranya sendiri tentang peristiwa tertentu.

Istilah penilaian alternatif secara luas didefinisikan sebagai metode penilaian apapun yang alternatif. Penilaian alternatif menuntut siswa untuk menunjukkan keterampilan dan pengetahuan yang tidak dapat dinilai dengan menggunakan penilaian berupa tes. Penilaian alternatif berusaha untuk mambuat siswa berpikir kritis dan evaluasi keterampilan dengan meminta siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas terbuka yang sering mengambil lebih dari satu periode kelas untuk menyelesaikan.

Ada beberapa alasan memilih untuk memanfaatkan tes atau penilaian alternatif, baik dalam proses maupun dalam produk proses pembelajaran.

  1. Keberhasilan atas terjadinya perubahan lebih tergantung pada kerja keras dibandingkan penjejalan pelajaran dimenit terakhir.
  2. Bentuk ini lebih menghargai yang konsisten, karena menuntut keterlibatan dalam proses pembelajaran secara langsung.
  3. Penilaian ini menuntut respon segera dari dosen atau guru.
  4. Penilaian ini menuntut dosen atau guru melakukan komunikasi yang lebih baik, lebih terbuka,  dan lebih jelas terhadap mahasiswa atau siswa.
  5. Moodel penilaian ini dapat memotivasi untuk bekerja dengan cara dan gaya yang berbeda sesuai dengan kecendrungan masing- masing.
  6. Model penilaian ini dapat mengurangi “jarak” hubungan yang berbeda antara fungsi guru dan siswa, dan dapat meciptakan hubungan yang akrab antara kedua belah pihak.
  7. Model penilaian ini diyakini lebih adil, lebih mudah mengukur kompetensi, kualitas, dan keahlian, serta bernilai dalam konteks external.
  8. Menggunakan metode penilaian standar membuat aktivitas mendekati kehidupan nyata.[1]

 

  1. B.     Fungsi Penilaian Alternatif.

Menurut beberapa ahli seperti Gardner,  Fodor, Sternberg, Perkins, Gruber menunjukkan bahwa individu yang kreatif menggunakan apa yang mereka miliki lebih efisien dan fleksibel. Seperti individu yang sangat reflektif tentang kegiatan mereka, mereka menggunakan waktu, dan kualitas produk mereka (Gardner, 1993).

Maka, dapat  disimpulkan fungsi penilaian alternatif adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai pemantauan kemampuan dan kinerja siswa .
  2. Sebagai proses yang melibatkan siswa dan guru dalam melakukan penilaian tentang siswa kemajuan dalam bahasa menggunakan strategi non-konvensional.
  3. Untuk menilai kompetensi, termasuk orang-orang yang melibatkan individu dalam membuat  penilaian diri.
  4. Sebagai “kemampuan untuk melakukan berbagai occupationally atau profesional yang relevan dengan tugas-tugas komunikatif
  5. Melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan tentang mana lembar kerja mereka untuk menilai, dan untuk menjamin bahwa umpan balik disediakan.

 

  1. C.      Karateristik Penilaian Alternatif.

            Karateristik utama penilaian alternatif tidak hanya mengukur belajar siswa, tapi secara lengkap memberi informasi yang lebih jelas tentang proses pembelajaran. Berikut ialah empat asumsi pokok penilaian kinerja:

1)     Didasarkan pada partisipasi aktif siswa.

2)     Tugas-tugas yang diberikan/dikerjakan oleh siswa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran.

3)     Penilaian tidak hanya mengetahui posisi siswa dalam proses pembelajaran, melainkan juga untuk memperbaiki proses pembelajaran.

4)     Dengan mengetahui lebih dulu kriteria yang digunakan, siswa akan terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

 

Ada banyak cara untuk mengimplementasikan penilaian alternatif dalam kelas. Walau bagaimanapun penilaian alternative mungkin akan menunjukkan sebagian besar karakteristik ini:

  • Penilaian ini didasarkan pada tugas-tugas otentik yang menunjukkan kemampuan peserta didik untuk mencapai tujuan komunikasi
  • Instruktur dan peserta fokus pada komunikasi, bukan pada jawaban yang benar dan yang salah
  • Membantu peserta didik untuk menetapkan kriteria untuk berhasil menyelesaikan tugas komunikasi
  • Peserta didik memiliki kesempatan untuk menilai diri mereka sendiri dan rekan-rekan mereka.
  • Meminta para siswa untuk melakukan, menciptakan atau menghasilkan sesuatu.
  • Mendorong siswa dalam merefleksikan diri.
  • Mengukur hasil signifikansi.
  • Mampu berpikir tingkat tinggi dan keterampilan pemecahan masalah.
  • Menggunakan tugas-tugas yang mewakili kegiatan instruksional bermakna.
  • Memanggil aplikasi dunia nyata.
  • Menggunakan penilaian manusia (bukan mesin) untuk skor.
  • Memerlukan peran instruksional dan penilaian untuk guru.
  • Memberikan kesempatan penilaian diri bagi siswa.
  • Menyediakan kesempatan bagi individu maupun kerja kelompok.
  • Mendorong siswa untuk melanjutkan aktivitas belajar di luar ruang lingkup penugasan.
  • Eksplisit mendefinisikan kriteria kinerja.
  • Membuat penilaian sama pentingnya dengan kurikulum dan pengajaran
  1. D.     Jenis-jenis Penilaian Alternatif.

 Penilaian alternatif mengambil banyak bentuk, sesuai dengan sifat keterampilan dan pengetahuan yang sedang dinilai. Siswa biasanya diminta untuk menunjukkan pembelajaran dengan menciptakan sebuah produk, seperti pameran atau presentasi lisan, atau melakukan suatu keterampilan, seperti melakukan sebuah eksperimen atau demonstrasi.

Empat variasi penilaian alternatif adalah penilaian kinerja, penilaian portofolio, penilaian proyek dan penilaian investigasi. Dalam situasi tertentu, lebih dari satu bentuk mungkin terlibat. Sebuah deskripsi singkat dari masing-masing uraian sebagai berikut.

  1. 1.     Penilaian Kinerja (performance assessment)

Performance assessment merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan mengaplikasikan pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Jadi boleh dikatakan bahwa perfeformance assessment adalah suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Istilah ini mengacu pada berbagai kegiatan penilaian guru yang memberikan kesempatan untuk mengamati siswa menyelesaikan tugas-tugas dengan menggunakan keterampilan yang sedang dinilai. Sebagai contoh, di kelas sains, daripada mengambil tes pilihan ganda tentang eksperimen ilmiah, siswa benar-benar melakukan percobaan laboratorium dan menulis tentang proses dan pilihan-pilihan mereka dalam laporan laboratorium.

Tujuan tugas dalam penilaian unjuk kerja adalah untuk mengetahui apakah yang diketahui siswa dan apakah yang mereka lakukan. Penilaian unjuk kerja bisa dimulai secara perlahan dan teratur. Akan tetapi karena penilaian unjuk kerja menilai pemahaman siswa, maka lebih baik mengunakan penilaian dengan komentar dari pada nilai numerik. Sebab nilai memberi kesan pada siswa bahwa pekerjaan itu berhasil, sebagian, atau tidak sama sekali. Komentar guru dapat memberikan pandangan pada siswa akan pemahamannya dan merupakan dasar pekerjaan berikutnya.

Dua hal yang harus ada dalam penilaian unjuk kerja adalah standar unjuk kerja harus ditetapkan dan tugas unjuk kerja harus ditulis sehingga dapat dievaluasi menggunakan standar yang ditetapkan tersebut.

  1. Langkah – langkah penilaian kinerja
    1. Melakukan identifikasi terhadap langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir (output) yang terbaik.
    2. Menuliskan perilaku kemampuan – kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir yang terbaik.
    3. Membuat kriteria – kriteria kemampuan yang akan diukur jangan terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakan tugas.
    4. Mendefinisikan kriteria kemampuan – kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan siswa yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang dihasilkan.
    5. Urutkan kroteria – kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati.
    6. Kalau ada, periksa kembali dan bandingkan dengan kriteria – kriteria kemampuan yang dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan.

 

 

  1. Metode yang dapat digunakan

i.          Metode holistik, digunakan apabila para penskor (rater) hanya memberikan satu buah skor atau nilai ( single rating) berdasarkan penilaian mereka secara keseluruhan dari hasil kinerja peserta.

ii.          Metode analytic, para penskor memberikan penilaian (skor) pada berbagai aspek yang berbeda yang berhubungan dengan kinerja yang dinilai. Dapat menggunakan checklist dan rating scale.

 

Contoh instrumen penilaian kinerja[2]

 

Standar Kompetens

Kompetensi Dasar

Memahamai hubungan garis dengan garis, garis

dengan sudut, sudut dengan sudut, serta menentukan ukurannya

Melukis sudut

Uraian tugas:

  • Tugas ini dikerjakan secara individu.
  • Lukislah sudut 45º dan 60º dengan penggaris dan jangka.

Format Penilaian Kinerja

Mata Pelajaran/Kelas                       : Matematika/VII

Kompetensi Dasar                            : Melukis sudut

Indikator Pencapaian Kompetensi  : Melukis sudut-sudut istimewa

Contoh: Format penilaian kinerja dengan skala rentang (rating scale)[3]

No

Nama Siswa

Aspek yang dinilai

Kriteria penskoran

Cara

memegang

alat

Cara

melukis

sudut

Kecermatan

melukis

Kebenaran

hasil lukisan

Skor

yang

dicapai

Nilai

  • Skor 3 = ada sedikit kesalahan
  • Skor 2 = ada banyak kesalahan
  • Skor 1 = tidak melakukan
  • Skor maksimal = 16
  • Skor minimal = 4
  •  Jumlah skor dapat ditransfer ke nilai dengan

skala 0 s.d. 100

Contoh: Nilai Dewi = 14:16

× 100 = 87,5

1

Dewi

4 4 3 3 14 87,5

2

Hera

           

3

Yeni

           

4

Ismail

           

5

Mawar

           

6

Very

           

7

Ve

           

8

Dicky

           

9

Kia

           

           

36

Zanuba

           

 

  1. 2.     Penilaian Portofolio.

Penilaian portofolio adalah proses yang berkesinambungan yang melibatkan siswa dan guru dengan memilih sampel karya siswa untuk dimasukkan dalam koleksi, tujuan utamannya adalah untuk kemajuan siswa. Portofolio merupakan kumpulan atau berkas pilihan yang dapat memberikan informasi bagi suatu penilaian.

Penggunaan prosedur ini meningkat dibidang bahasa, terutama yang berkaitan dengan keterampilan menulis. Hal itu  membuat intuitif akal untuk melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan tentang mana lembar kerja mereka untuk menilai, dan untuk menjamin bahwa umpan balik disediakan. Guru dan rekan review merupakan hal penting. Mungkin keuntungan terbesar dari penilaian portofolio adalah bahwa siswa diajarkan untuk menjadi pemikir independen. Penting untuk diingat bahwa portofolio lebih dari folder sederhana mahasiswa bekerja.

Portofolio biasanya terdiri dari pekerjaan yang telah menyelesaikan lebih dari satu periode penilaian atau semester. Guru menggunakan portofolio mengharuskan mahasiswa untuk meninjau pekerjaan mereka dan memilih item yang paling menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran telah dipenuhi. Sering kali siswa juga menulis esai merefleksikan apa yang telah mereka pelajari, termasuk proses-proses mereka telah digunakan untuk memenuhi tujuan mereka. Portofolio dapat berbasis kertas, berbasis komputer, atau kombinasi keduanya. Pada akhirnya, mereka harus dinilai terhadap seperangkat kriteria yang telah ditetapkan dan akan memberikan bukti pembelajaran yang telah terjadi dari waktu ke waktu.

  1. Tujuan portofolio

Tujuannya ditetapkan berdasarkan apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan jenis portofolio. Dalam penilaian kelas, portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain :

  • Menghargai perkembangan yang dialami siswa.
  • Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung.
  • Memberi perhatian pada prestasi kerja siswa yang terbaik.
  • Merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimentasi.
  • Meningkatkan efektifitas proses pengajaran.
  • Bertukar informasi dengan orangtua/wali siswa dan guru lain.
  • Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada siswa.
  • Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri, dan membantu siswa dalam merumuskan tujuan.

 

  1. Prinsip portofolio

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam menggunakan portofolio disekolah, antara lain :

  • Saling percaya (mutual trust) antara guru dan siswa.
  • Kerahasiaan bersama (confidentiality) antara guru dan siswa.
  • Milik bersama (join ownership) antara siswa dan guru.
  • Kepuasan (satisfaction).
  • Kesesuaian (relevance).
  • Penilaian proses dan hasil

.

  1. Metode portofolio

Pengorganisasian  dalam penilaian portofolio adalah hal yang sangat penting. Terdapat beberapa cara portofolio, tetapi semuanya mengandung hal yang paling penting, yaitu :

  1. Pengumpulan (storing),
  2. Pemilihan (sorting), dan
  3. Penetapan (dating) dari suatu tugas (task).

Menurut Nitko (2000), secara umum penilaian portofolio dapat dibedakan menjadi 5 bentuk, yaitu :

  1. Portofolio ideal (ideal portfolio)
  2. Portofolio penampilan ( show portfolio)
  3. Portofolio dokumentasi (documentary portfolio)
  4. Portofolio evaluasi (evaluation portfolio)
  5. Portofolio kelas ( classroom portfolio)

Karakteristik perubahan portofolio siswa dari waktu ke waktu akam merefleksikan perubahan penting dalam suatu proses kemampuan intelektual siswa. Walaupun hasil portofolio bergantung kepada penampilan (performance) siswa, umtuk membedakan penilaian penampilan minimal terdapat 4 aspejk penting, yaitu :

  • Portofolio memilki rekaman kinerja siswa di kelas untuk mencapai kondisi standar yang diperlukan.
  • Portofolio menunjukan kesempatan ganda bagi siswa untuk mendemonstrasikan kompetensinya.
  • Portofolio selalu menunjukkan perbedaan bentuk dari tugas yang diberikan.
  • Sampel portofolio adalah suatu hasil dari usaha lanjut untuk memperbaiki hasil dan proses yang telah dikerjakan siswa.
  1. Pedoman penerapan penilaian porfolio

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh guru dalam penggunaan penilaian porfolio di sekolah sebagai berikut :

1)  Memastikan bahwa siswa memiliki berkas portofolio

  • Menentukan bentuk dokumen atau hasil pekerjaan yang perlu dikumpulkan.
  • Siswa mengumpulkan dan menyimpan dokumen dan hasil pekerjaannya.
  • Menentukan kriteria penilaian yang digunakan.
  • Mengaruskan siswa menilai hasil pekerjaannya sendiri secara berkelanjutan.
  • Menetukan waktu dan menyelenggarakan pertemuan portofolio.
  • Melibatkan orangtua dalam proses penilaian portofolio.

 

2)  Bahan penelitian

Hal-hal yang dapat dijadikan sebagai bahan penilai portofolio di sekolah antara lain sebagai berikut :

  • Penghargaan tertulis
  • Penghargaan lisan
  • Hasil kerja biasa dan hasil pelaksanaan tugas-tugas oleh siswa
  • Daftar ringkasan hasil pekerjaan
  • Catatan sebagai hasil pekerjaan
  • Catatan sebagai peserta dalam suatu kerja kelompok
  • Contoh hasil pekerjaan
  • Catatan / laporan dari pihak yang relevan
  • Daftar kehadiran
  • Hasil ujian / tes
  • Persentase tugas  yang telah selesai dikerjakan
  • Catatan tentang peringatan yang diberikan guru manakala siswa melakukan kesalahan.
  1. Contoh penilaian portofolio

Contoh tugas portofolio :

  1. Siswa diminta membuat rancangan pengamatan (dibantu dengan lembar kerja dari guru) mengenai materi-materi selama satu semester yang akan diberlakukan eksperimentasi.
  2. Melakukan kegiatan eksperimentasi sesuai dengan alokasi (waktu pokok bahasan ) dengan yang direncanakan.
  3. Membuat suatu hasil pengamatan perpokok bahasan yang dieksperimenkan dan mencari tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap percobaannya.
  4. Siswa diminta melakukan diskusi tentang hasil percobaan tersebut.

Untuk menetapkan skor tugas portofolio, ada beberapa langkah yang dilakukan,  antara lain :

  1. Buatlah kerangka konseptual berupa kriteria tentang tingkatan kualitas yang menggambarkan materi dan proses penampilan yang akan dinilai.
  2. Kembangkan rincian pedoman yang menggambarkan urut-urutan materi dan proses dari awal sampai akhir.
  3. Kembangkan cara penskoran secara umum yang sesuai dengan pedoman terperinci dan terfokus pada aspek-aspek penting menyangkut materi dan proses untuk dinilai melalui tugas- tugaas yang berbeda. Pedoman umum ini akan digunakan untuk mengembangkan pedoman khusus. Kembangkan cara penskoran secara khusus untuk penampilan tugas-tugas yang juga bersifat khusus.

Untuk penskoran portofolio, digunakan penilaian substantif pada lembar yang dibuat, mengenai hal-hal berikut, dan perlu dibandingkan pada portofolio berikutnya.

Nama siswa    :………………

Tanggal          :………………

No. Aspek yang Dinilai Portofolio  ke

1

2

3

1  Latar belakang masalah / pendahuluan      
2  Kajian pustaka      
3 Ketajaman pembahasan / analisis      
4 Penyimpulan / penutup      
5  Tata tulis dan bahasa      
   Skor total      

 

  1. 3.     Penilaian proyek

Proyek merupakan cara yang tepat untuk melibatkan siswa lebih jauh dalam penyelesaian masalah. Proyek dapat melibatkan siswa dalam situasi terbuka yang memberikan hasil yang beragam, atau mengiring murid untuk memikirkan pertanyaan atau hipotesis yang membutuhkan penelusuran (investigasi) lebih jauh. Proyek juga memberi peluang bagi siswa untuk menggali ide ilmiah menggunakan ilmu fisika atau teknologi seperti sensor elektronik, kalkulator grafik dan komputer. Dengan kata lain proyek yang dimaksud berfokus pada konsep dan prinsip inti sebuah disiplin yang memfasilitasi siswa untuk berinvestigasi, pemecahan masalah, dan tugas-tugas bermakna lainnya yang dapat menghasilkan suatu produk nyata. Proyek yang terlibat dalam konsep pemecahan masalah dapat digunakan siswa untuk menggali, belajar, berfikir, dan mencari ide yang mengembangkan pemahaman mareka dalam semua konsep penting dari suatu pembelajaran.

Sedangkan menurut keputusan menteri (Kepmen) No.53/4/2001 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah (DIKDASMEN), Proyek mempunyai pengertian:

  1. Akumulasi tugas yang mencakup beberapa kompetensi dan harus diselesaikan oleh peserta didik (pada akhir semester).
  2. Suatu model pembelajaran yang diadopsi untuk mengukur dan menilai ketercapaian kompetensi secara kumulatif.
  3. Merupakan suatu model penilaian diharapkan untuk menuju profesionalisme.
  4. Lingkup kegiatan yang dilakukan dari membuat proposal, persiapan, pelaksanaan (proses) sampai dengan kegiatan kulminasi (penyajian, pengujian dan pameran).

Jadi, Proyek yang dimaksud disini adalah Penilaian Proyek yang merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang mencakup beberapa kompetensi yang harus diselesaikan oleh peserta didik dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.

Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:

  1. Kemampuan pengelolaan

Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.

  1. Relevansi

Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.

  1. Keaslian

Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap peserta didik.

Proyek dapat dilakukan siswa selama masa sekolah, dimana siswa dapat berkolaborasi dengan guru satu atau dua orang, tetapi siswa melakukan investigasi dalam kelompok kolaboratif antara 4-6 orang. Keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dan dikembangkan oleh siswa dalam tim adalah merencanakan, mengorganisasikan, negosiasi, dan membuat konsesus tentang tugas yang dikerjakan, siapa yang mengerjakan apa, dan bagaimana mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam berinvestigasi. Keterampilan yang dibutuhkan dan yang akan dikembangkan oleh siswa merupakan keterampilan yang esensial sebagai landasan untuk keberhasilan hidupnya. Oleh karena hakikat proyek ini adalah kolaboratif, maka pengembangan keterampilan tersebut seyogyanya ditujukan untuk semua tim.

Menurut Lacy Snead dan Ed Dickey, jika siswa telah mengatur pelaksanaan proyek, artinya mereka telah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menulis gambaran dari proyek
  2. Mengidentifikasi prosedur yang diperlukan
  3. Menetapkan dalam hal membuat rekaman dari kerja mereka, dan
  4. Menyatakan hasil.

Sedangkan menurut I Wawan Santyasa tentang karakteristik pembelajaran berbasis proyek, berikut pada tabel 1.

Tabel 1

Karakteristik Utama Pembelajaran Berbasis Proyek

I

Isi

memuat gagasan

yang orisinil/asli

-          masalah kompleks

-          siswa menemukan hubungan antar gagasan yang diajukan

-          siswa berhadapan pada masalah yang ill-defined

-          pertanyaan cenderung mempersoalkan masalah dunia nyata

 

II

Kondisi

mengutamakan

otonomi siswa

-          melakukan inquiry dalam konteks masyarakat

-          siswa mampu mengelola waktu secara efektif dan efisien

-          siswa belajar penuh dengan kontrol diri

-          mensimulasikan kerja secara professional

 

III

Aktifitas

Investigasi

kelompok kolaboratif

-          siswa berinvestigasi selama periode tertentu

-          siswa melakukan pemecahan masalah kompleks

-          siswa memformulasikan hubungan hubungan antar gagasan orisinilnya untuk mengkonstruksi keterampilan baru

-          siswa menggunakan teknologi otentik dalam memecahkan masalah

-          siswa melakukan umpan balik mengenai gagasan mereka berdasarkan respon ahli atau dari hasil tes

 

IV

Hasil

produk nyata

-          siswa menunjukkan produk nyata berdasarkan hasil investigasi mereka

-          siswa melakukan evaluasi diri

-          siswa responsif terhadap segala implikasi dari kompetensi yang dimilikinya

-          siswa mendemonstrasikan kompetensi sosial, manajemen pribadi, regulasi belajarnya.

Proyek ini dapat diterapkan untuk semua bidang studi, dengan implementasi mengikuti 5 langkah utama, sebagai berikut:

  1. Menetapkan tema proyek, memenuhi indikator-indikator berikut:

-          Memuat gagasan umum dan orisinil

-          Penting dan menarik

-          Mendeskripsikan masalah kompleks

-          Mencerminkan hubungan berbagai gagasan, dan

-          Mengutamakan pemecahan masalah ill-defined.

  1. Menetapkan konteks belajar, memenuhi indikator-indikator berikut:

-          Pertanyaan-pertanyaan proyek mempersoalkan masalah dunia nyata

-          Mengutamakan otonomi siswa

-          Melakukan inquiri dalam konteks masyarakat

-          Siswa mampu mengelola waktu secara efektif dan efisien

-          Siswa belajar penuh dengan kontrol diri, dan

-          Mensimulasikan kerja secara professional.

  1. Merencanakan aktivitas-aktivitas, yaitu:

-          Membaca

-          Meneliti

-          Observasi

-          Interviu

-          Merekam

-          Mengunjungi obyek yang berkaitan dengan proyek, dan

-          Akses internet.

  1. Memproses aktivitas-aktivitas, memenuhi indikator-indikator berikut:

-          Membuat sketsa

-          Melukiskan analisis

-          Menghitung

-          Menggeneralisasi, dan

-          Mengembangkan prototype.

  1. Penerapan aktivitas-aktivitas untuk penyelesaian proyek, yaitu:
  2. Mencoba mengerjakan proyek berdasarkan sketsa

-          Menguji langkah-langkah yang telah dikerjakan dan hasil yang diperoleh

-          Mengevaluasi hasil yang telah diperoleh

-          Merevisi hasil yang telah diperoleh

-          Melakukan daur ulang proyek yang lain, dan

-          Mengklasifikasi hasil terbaik.

Adapun dampak positif dari proyek adalah sebagai berikut:

  1. Belajar untuk mengartikan masalah dan memimpin tugas mandiri
  2. Belajar untuk bekerja dengan yang lain dalam kelompo
  3. Belajar bahwa masalah dunia nyata sering tidak mudah tapi membutuhkan usaha yang lebih dan waktu yang lama.
  4. Belajar melihat bahwa matematika sebagai ilmu praktis yang merupakan teknik dalam penyelesaian masalah
  5. Belajar untuk mengatur, merencanakan dalam jangka panjang secara objektif
  6. Belajar menulis laporan dari investigasi

Proyek dapat menjadi penting dalam perkembangan kemampuan ilmiah karena dapat memberi peluang bagi siswa untuk melakukan hal berikut:

  1. Mengatasi dan merumuskan masalah dalam matematika dan mengaplikasikannya kedunia nyata
  2. Menggunakan bahasa matematika dalam mengkomunikasikan ide
  3. Menggunakan kemampuan untuk menerapkan keahlian dalam menganalisis
  4. Mendemonstrasi pengetahuan konsep, skill dan algoritma
  5. Menghubungkan antara matematika dengan disiplin ilmu lainnya.
  6. Mengembangkan pemahaman dari alam dan matematika
  7. Mengintegrasikan pengetahuan matematika kedalam himpunan konsep yang lebih berarti.
  8. Memberi alasan dalam menggambarkan kesimpulan dari investigasi

Adapun contoh proyek (matematika diluar kelas) adalah seperti hal-hal yang berkaitan dengan Statistika, Geometri, Trigonometri (tinggi gedung, perkiraan luas dan sebagainya). Lebih lanjut salah satu contoh instrument (kegiatan) penilaian proyek dalam pembelajaran matematika terlampir pada lampiran 1.

 

  1. 4.     Penilaian Investigasi

Dalam investigasi ini siswa dituntut untuk lebih aktif dalam mengembangkan sikap dan pengetahuannya tentang matematika sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga akibatnya memberikan hasil belajar yang lebih bermakna pada siswa.

Menurut laporan dari Cockcroft (dalam Evans, 1987) bahwa investigasi merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan kepada siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan. Kegiatan belajar dimulai dengan diberikan masalah-masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksanaannya mengacu pada berbagai teori investigasi.

Menurut Height (dalam Krismanto, 2004), investigasi berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi, investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang/kelompok, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Dengan kata lain bahwa investigasi adalah kegiatan menyebar (divergen activity) dimana para siswa lebih diberikan kesempatan untuk memikirkan, mengembangkan, menyelidiki hal-hal menarik yang mengusik rasa keingintahuan mereka.

Langkah-langkah pembelajaran investigasi menurut Vui (2001):

  1. Pendahuluan dengan masalah. Buatlah siswa tertarik dengan memotivasi yang baik dan membuat situasi yang dapat membangkitkan semangat.
  2. Mengklarifikasi masalah. Gunakan pertanyaan untuk menggambarkan pertanyaan matematika yang pokok yang terdapat dalam masalah.
  3. Mendisain Investigasi. Guru membimbing siswa, baik secara individual maupun kelompok untuk memilih pemecahan masalah yang tepat yang paling memuaskan. Contoh: Apa yang akan kita cari dari masalah itu? Bagaimana kita dapat mencoba untuk memecahkan masalah? Apa pemecahan masalah yang tepat yang mungkin berguna?
  4. Melaksanakan investigasi. Para siswa membuat dan menguji hipotesis, mendiskusikan dan guru harus memberi pertanyaanpertanyaan untuk membimbing siswa.
  5. Merangkum pembelajaran. Para siswa membutuhkan waktu untuk mempresentasikan temuan mereka dan menjelaskan beberapa teori yang dimiliki siswa mengenai temuannya.

Catatan: Pertanyaan-pertanyaan dalam kelas mungkin dapat mengikat penemuan ini bersama-sama dan memunculkan proses-proses yang dipakai selama investigasi.
Sedangkan menurut pendapat Hopkin (1996), langkah-langkah investigasi matematika yang diterapkan adalah:

1)     pertama-tama siswa dihadapkan pada masalah yang problematis;

2)     guru memfasilitasi siswa untuk melakukan eksplorasi/kajian sebagai respon terhadap masalah yang problematis itu;

3)     siswa merumuskan tugas-tugas belajar dan mengorganisasikan kegiatan belajarnya;

4)     siswa melakukan kegiatan belajar baik secara kelompok atau mandiri;

5)     siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam belajar; dan

6)     siswa mengecek ulang hasil belajarnya agar dapat menarik simpulan atau mungkin diperlukan kajian atau eksplorasi ulang.

Dalam investigasi siswa mungkin:

  • Membuat pertanyaan sendiri, misalnya:

-          bagaimana jika…?

-          adakah yang lain?

-          adakah suatu keteraturan?

-          bagaimana polanya? Dan sebagainya.

  • Menentukan arah yang dituju dengan memikirkan apa yang terjadi, jika…?, dan sebagainya.

Mengapa digunakan investigasi?

Investigasi mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih bermakana, artinya siswa dituntut selalu berfikir tentang suatu persoalan dan mereka mencari cara penyelesaiannya, dengan demikian mereka akan lebih terlatih untuk selalu menggunakan keterampilan pengetahuan sehingga pengetahuan dan pengelaman belajar mereka akan tertanam untuk jangka waktu yang cukup lama.
Keuntungan bagi siswa dengan adanya investigasi antara lain:

  1. Keuntungan pribadi

-          dalam proses belajarnya dapat bekerja secara bebas

-          memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif dan aktif

-          rasa percaya diri dapat lebih meningkat

-          dapat belajar untuk memecahkan masalah, manangani suatu masalah

-          mengembangkan antusiasme dan rasa tertarik pada matematika

  1. Keuntungan sosial

-          meningkatkan belajar bekerja sama

-          belajar berkomunikasi baik dengan teman sendiri maupun dengan guru

-          belajar berkomuniaksi yang baik secara sistematis

-          belajar mengahrgai pendapat orang lain

-          meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan

  1. Keuntungan akademis

-          siswa terlatih untuk mempertanggung jawabkan jawaban yang diberikannya

-          bekerja secara sistematis

-          mengembangkan dan melatih keterampilan matematika dalam berbagai bidang

-          merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaannya

-          mencek kebenaran jawaban yang mereka buat

-          selalu berfikir tentang cara/strategi yang digunakan sehingga didapat suatu

kesimpulan yang berlaku umum.

Oleh Setiawan (2006) menyatakan bahwa fase-fase yang harus ditempuh dalam investigasi adalah:

1)     Fase membaca, menerjemah dan memahami masalah,

2)     Fase pemecahan masalah, dan

3)     Fase menjawab dan mengkomunikasikan jawaban.

Memulai Suatu investigasi

Berikut adalah beberapa saran yang dapat membantu guru untuk melaksanakan pendekatan investigasi di dalam kelas:

1)     Biasakan setiap mengajar untuk menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari, dengan berbagai strategi mangajar yang bervariasi

2)     Jelaskan tentang tujuan pengajaran yang diberikan

3)     Selalu memberi dorongan

4)     Hendaknya memulai pendekatan investigasi dari permasalahan yang mudah dan sederhana

5)     Selalu mendiskusikan jawaban-jawaban yang didapat oleh siswa, sehingga siswa yang satu dapat memahami dan menghargai pendapat siswa lain.

Adapun peran guru adalah sebagai berukut:

  1. Memberikan informasi dan instruksi yang jelas
  2. Memberikan bimbingan seperlunya dengan menggali pengetahuan siswa yang menunjang pada pemecahan masalah (buakan menunjukkan cara penyelesaiannya)
  3. Memberikan dorongan sehiongga siswa lebih termotivasi
  4. Menyiapkan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh siswa
  5. Memimpin diskusi pada pengambilan keputusan akhir.

 

Menurut Lacy Snead dan Ed Dickey bahwa untuk membantu siswa memulai penelitian, sebaiknya diberi pengarahan dalam penggunaan catatan mereka untuk merumuskan, meneliti dan menampilkan hasilnya, yaitu sebagai berikut:

  1. Siswa sebaiknya menulis gambaran bersih dari penelitiannya
  2. Siswa merencanakan langkah-langkah yang diambil dalam penelitian. Apakah hipotesis perlu dinyatakan atau tidak, apakah pengumpulan data diperlukan, perlukah sumber kepustakaan, perlukah mengadakan interview, apakah computer diperlukan. Siswa sebaiknya menyatakan prosedur yang akan mereka jalani dalam bekerja pada penelitian.
  3. Siswa sebaiknya menyimpan arsip dari penelitian. Mereka sebaiknya menulis tujuan proses dan bahan yang digunakan dalam penelitian. Mereka juga harus merekam pertanyaan yang muncul selama bekerja, menjaga data dan mencatat pemikiran dan ide mereka. Mereka juga harus memutuskan cara terbaik untuk mennyampaikan hasil: grafik, tabel dan lainnya
  4. Siswa sebaiknya menulis simpulan, pertanmyaan, bukti atau apapun dari hasil yang mereka ambil. Laporan akhir dapat disajikan tertulis ataupun tidak.

 

Penilaian (Assesment) untuk pendekatan investigasi

Sejalan dengan pendekatan investigasi secara ilmiah, maka bentuk tagihan yang paling sesuai adalah soal menyangkut pemecahan masalah, sehingga langkah-langkah pembuatan soal investigasi adalah sebagaimana langkah-langkah baku dalam pembuatan soal pada umumnya, yaitu:

  1. Menetapkan tujuan investigasi
  2. Menetapkan ruang lingkup investigasi
  3. Perumusan indikator investigasi
  4. Penyusunan kisi-kisi
  5. Penulisan butir soal investigasi
  6. Merakit soal dalam bentuk instrumen tes dan penentuan pedoman pemarkaan (rublik)
  7. Mengujikan tes pada siswa
  8. Memeriksa tes yang sudah dikerjakan siswa
  9. Menganalisis butir dan perangkat soal
  10. Merevisi soal-soal dan mendokumentasikan soal.

Menyangkut ranah penilaian soal investigasi kaitannya dengan kisi-kisi soal, baiasanya berjenjang sebagai berikut: (Tim Instruktur PKG Matematika SMU, 1994)

  1. Soal-soal tentang pengetahuan dan penalaran (knowledge dan comprehension).
  2. Soal-soal tentang penalaran dan penerapan (reasoning dan application).
  3. Soal-soal investigasi (investigation).

Bersamaan dengan perakitan soal investigasi, maka terlebih dulu diterapkan rublik (pedoman penskoran) yang untuk itu dapat digunakan analytic scoring scale sebagai berikut:

Kriteria
Skor
Komentar
A. Pemahaman dan pengorganisasian (C/O)

  1. Menginterpretasikan tugas
  2. Memilih pendekatan sistematis, membuat tabel, mengorganisasikan fakta
  3. Mengetahui bahwa konjektur perlu dibuktikan

 

B. Pelaksanaan tugas (C/T)

  1. Mengenal pola yang sesuai
  2. Menggunakan lambang untuk membuat dugaan (konjektur)
  3. menguji dugaan untuk kasus atau membuktikan dugaan (konjektur)

C. Komunikasi (C)

  1. Argumen yang jelas dan logis menonjolkan butir-butir yang penting, misalnya dalam menentukan kesimpulan
  2. Memberikan alasan yang jelas dan singkat untuk strategi yang digunakan.

(Tim Instruktur PKG Matematika SMU, 1994)

Menurut Lacy Snead dan Ed Dickey scoring rubric proyek dan investigasi adalah sebagai berikut:

Skor

Description

3 (Sangat Memuaskan)

-          Menunjukkan ketelitian pemahaman (pemahaman yang tinggi) tentang pertanyaan-pertanyaan dan konsep-konsep yang dipelajari

-          Menggunakan strategi yang patut dicontoh dari investigasi

-          Kesimpulan dipresentasikan secara benar dan diperkuat oleh studi

-          Menulis laporan yang sesuai/patut dicontoh

-          Diagram / tabel / chart / grafik yang dibuat akurat dan tepat (sesuai)

-          Melebihi syarat/kebutuhan dari pembelajaran yang efektif.

 

2 (Memuaskan)

-          Menunjukkan pemahaman tentang pertanyaan-pertanyaan (permasalahan) dan konsep-konsep pembelajaran

-          Menggunakan strategi yang sesuai dari investigasi

-          Kesimpulan dipresentasikan secara benar dan sebagian besar didukung/ diperkuat oleh studi

-          Tulisan laporan yang efektif

-          Diagram / tabel / chart / grafik yang dibuat akurat dan tepat (sesuai)

-          Memenuhi seluruh persyaratan dari pembelajaran yang efektif.

 

1 (Kurang Memuaskan)

-          Menunjukkan pemahaman dari sebagian besar pertanyaan-pertanyaan dan konsep-konsep pembelajaran

-          Beberapa strategi investigasi yang digunakan sesuai

-          Presentasi kesimpulan sebagian besar benar tetapi tidak diperkuat oleh studi

-          Penulisan laporan sebagian besar efektif

-          Diagram / tabel / chart / grafik yang dibuat sebagian besar akurat tetapi kemungkinan tidak sesuai

-          Memenuhi sebagian besar persyaratan dari pembelajaran yang efektif.

 

0 (Tidak Memuaskan)

-          Menunjukkan sedikit atau tidak adanya pemahaman dari pertanyaan-pertanyaan dan konsep-konsep pembelajaran

-          Sering menggunakan strategi yang tidak sesuai dari investigasi

-          Presentasi kesimpulan sebagian besar tidak benar

-          Penulisan laporan kebanyakan tidak efektif

-          Diagram / tabel / chart / grafik yang dibuat hampir semua/sebagian besar/kebanyakan tidak akurat dan tidak sesuai

-          Tidak memenuhi syarat/kebutuhan dari suatu pembelajaran yang efektif.

 

Menurut Mimin Haryati berikut contoh rubrik penilaian proyek pada mata pelajaran biologi:

No

Aspek

SKOR (1-5)

TOTAL SKOR

1 PERENCANAAN
  1. Persiapan
  2. Rumusan Judul

 

   
2 PELAKSANAAN
  1. Sistematika Penulisan
  2. Keakuratan Sumber Data
  3. Kuantitas Sumber Data
  4. Analisis Data
  5. Penarikan Kesimpulan

 

   
3 LAPORAN PROYEK
  1. Performans
  2. Presentasi/Penguasaan
   

Kesimpulan:
Penilaian dengan Proyek dan investigasi ini dapat menentukan kemampuan siswa dalam hal:

-          Kemampuan berkomunikasi

-          Kemampuan memecahkan masalah

-          Kemampuan berfikir, dan

-          Kemampuan Koneksi.

 

LAMPIRAN1
Contoh instrument (kegiatan) Penilaian Proyek dalam Pembelajaran Matematika

Sandar Kompetensi:

Kompetensi Dasar: Menggunakan konsep aljabar dalam pemecahan masalah aritmetika sosial yang sederhana

Indikator:

  1. Mengidentifikasi macam kegiatan ekonomi sederhana di pasar tradisional.
  2. Menentukan besar dan presentase laba/rugi, harga jual, harga beli pasar.
    Sumber: Standar isi mata pelajaran matematika SMP/MTs 2006

 

Uraian Tugas:

Kerjakan tugas ini secara kelompok. Anggota tiap kelompok paling banyak 6 orang.
Lakukan wawancara terhadap paling sedikit lima pedagang kecil di suatu pasar tradisional. Terhadap setiap pedagang yang diwawacara, dikumpulkan data tentang:

  1. modal yang dimiliki,
  2. untung yang rata-rata diperoleh setiap hari (atau per minggu), atau rugi yang pernah dialami dan apa penyebabnya,
  3. kegiatan penting apa saja yang dilakukan dalam berdagang terutama dalam hal pengadaan barang dan penjualan, dan sebagainya.

Siapkan format wawancara yang relevan.

Buat laporan secara tertulis tentang kegiatan yang dilakukan sejak perencanaan, pelaksanaan dan hasil yang diperoleh. Format laporan mencakup komponen:

 

Tujuan kegiatan

Persiapan
Pelaksanaan

Hasil yang diperoleh

Kesan dan pesan terhadap tugas.

Laporan tentang hasil yang diperoleh memuat hal-hal berikut:
penyajian data yang diperoleh dalam bentuk tabel sesuai pengelompokan data pada nomor 2.

Penjelasan tentang:

1)     Pedagang mana yang persentase keuntungan/kerugiannya paling banyak dan besarnya persentase. Dalam kondisi yang bagaimana keuntungan/kerugian bisa terjadi.

2)     Kegiatan yang pada umumnya harus dulalui para pedagang dalam berdagang.
Laporan dikumpulkan paling lambat enam minggu setelah diberikan tugas ini.

LAMPIRAN2
Project Record (Catatan Proyek)
Nama Kelompok______________________________________________

Proyek_________________________________________________________
_________________________________________________________________
Deskripsi/Isi_____________________________________________________________________________________________________________
Prosedur/Kondisi_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Aktifitas/Ringkasan___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Hasil__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
LAMPIRAN3
Contoh Investigasi dalam Geometri

Defenisi: Suatu ketinggian bagian dalam dari sebuah segitiga sama sisi adalah suatu segmen yang ditarik dari bagian titik manapun di dalam sebuah segitiga dan tegak lurus terhadap suatu sisi segitiga itu.

Bagian A:

Bangunlah sebuah segitiga sama sisi dengan langkah-langkah sebagai berikut, dengan menggunakan pensil

1)     Buat garis AB.

2)     Buat suatu lingkaran dengan pusat A jari-jari B.

3)     Buat suatu lingkaran dengan pusatB dan jari-jari AB.

4)     Perpotongan kedua lingkaran diperoleh titik C.

5)     Bagun segitiga sama sisi ABC.

6)     Hapus lingkaran itu, sehingga diperoleh segitiga ABC.

Bagian B:

Menyelidiki ketinggian bagian dalam.

1)     Buatlah suatu garis sebagai tinggi segitiga

2)     Tegak lurus pada salah satu sisinya.

3)     Buat titik di bagian dalam segitiga.

4)     Tarik garis lurus pada 2 titik lainnya.

5)     Ukur panjangnya.

6)     Buatlah suatu dugaan.

7)     Ujikan dugaan tersebut pada bagian lain dalam segitiga

8)     Uji dugaan tersebut pada segitiga lain yang tidak sama sisi

9)     Tulislah apa saja yang telah ditemukan.

 BAB III

PENUTUP

  1. A.     Simpulan

Bahwa bagian dari tujuan penilaian alternatif adalah untuk membuat penilaian yang lebih bermakna pengalaman belajar. Namun, memastikan penguasaan keahlian atau subjek masih merupakan tujuan utama penilaian. Penilaian alternatif diperlukan siswa untuk menunjukkan keterampilan dan pengetahuan yang tidak dapat dinilai dengan menggunakan berjangka waktu pilihan ganda atau tes benar-salah sehingga mengajak siswa untuk berusaha mengungkapkan siswa berpikir kritis dan evaluasi keterampilan karena tujuan dari jenis penilaian ini meminta siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas terbuka yang sering mengambil lebih dari satu periode kelas untuk menyelesaikan. Selain itu mendorong siswa untuk melanjutkan aktivitas belajar di luar ruang lingkup penugasan sehingga siswa menjadi lebih professional dan komunikatif. Penilaian alternatif mengambil banyak bentuk, sesuai dengan sifat keterampilan dan pengetahuan yang sedang dinilai. Siswa biasanya diminta untuk menunjukkan pembelajaran dengan menciptakan sebuah produk, seperti pameran atau presentasi lisan, atau melakukan suatu keterampilan, seperti melakukan sebuah eksperimen atau demonstrasi.

Keuntungan yang didapatkan bagi sekolah adalah dengan menerapkan penilaian alternatif sekolah dapat mempersiapkan Penilaian alternatif membantu sekolah mempersiapkan siswa untuk tugas-tugas kompleks yang akan dituntut dari mereka ketika mereka menjadi dewasa dengan berfokus pada keterampilan berpikir daripada menghafal. Sehingga untuk prospek masa yang akan datang siswa dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas karena faktanya untuk dunia kerja menuntut pekerja dengan keterampilan berpikir analitis. Pekerja akan perlu menggunakan berpikir tingkat tinggi keterampilan untuk memecahkan masalah-masalah kompleks. Penilaian alternatif membantu sekolah

 DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. 2009. Perencanaan Pembelajaran. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung.

Bernawi Munthe. 2009. Desain Pembelajaran. Pustaka Insan Madani : Yogyakarta.

Nana Sudjana. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung.

Siregar Eveline dan Nara Hartini. 2007. Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. MKDK FIP Universitas Negeri Jakarta : Jakarta.

Suharsimi Arikunto. 2005. Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta.

Z. Asmawi. 1994. Penilaian Hasil Belajar. Dirjen Dikti Depdikbud : Jakarta.

Anonim. 2009. http://budimeeong.wordpress.com/Alternatif Assesment mbs 2 diakses pada tanggal 20 Desember 2009.

www.narnikurniawan.blogspot.com


[1] Bernawi Munte. 2009. Desain Pembelajaran. Pustaka Insan Madani : Jakarta. hlm 128

[2] Sumber: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mapel Matematika SMP/MTs. (Permendiknas 22/2006)

[3] Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika/Sri Wardhani/ Widyaiswara PPPPTK Matematika Yogyakarta/2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s